Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Maret 2025

Sederhana

Jika ada yang bertanya, "Bagaimana istrimu di matamu?" Saya mungkin akan butuh waktu lebih lama untuk menjawab, bukan karena tidak tahu, tetapi karena terlalu banyak hal yang bisa diceritakan. Ini beberapa diantaranya,

Istriku adalah seseorang yang bisa memberikan instruksi berulang kali tanpa merasa lelah, terutama kalau itu soal siapa yang harus mandiin nala, trus beliin nala ayam dkriuk sampe disuapin, beliin kembar lele kremes, atau ambilin puding potongin melon belah buah naga biar sama rata, hingga diminta pagi-pagi beliin 10 kue nona manis untuk bekal nala 2 hari, kalo kesiangan sering kehabisan, sore muterin nala beli onde-onde mini, malam masukin nasi sisa ke kulkas trus jangan lupa rendem tempat nasi biar besok gampang nyucinya. Daaan lain sebagainya. Sejak pertama kali instruksi itu meluncur, saya sudah paham, bahwa ini bukan sekadar permintaan—ini bagian dari dirinya, bagian dari kebiasaan kecil yang justru saya rindukan kalau sedang tidak ada.

Dia adalah perempuan dengan seribu ekspresi. Dari wajah berbinar saat makan makanan favoritnya yang sederhana dari oseng gembus, oseng kates, sayur mbayung. Wajah membara saat berulang kali menginstruksikan mandi kepada si kembar namun gerakannya lelet mulai ambil handuk sampai masuk kamar mandi bisa 10 menit, pun saat menginstruksikan sholat isya sikat gigi menjelang tidur yang tak jarang berakhir si kembar berantem di dalam kamar mandi gara-gara rebutan gayung atau ngga mau ambilin odol. Sampai wajah datar tak ada cerita diam seribu bahasa, saat suaminya berbuat tak seperti yang diharapkan. Saat diminta untuk memikirkan bagaimana caranya agar rumah kami dapat bebas dari kelabang, hewan kecil berkaki banyak nggremet-nggremet. Namun yang ada cuma solusi untuk menabur garam. Atau hal-hal lain yang kurang layak untuk ditulis di sini.

Dia bukan tipe yang akan mengungkapkan cintanya dengan kata-kata dramatis atau kejutan besar. Tapi dia selalu ada. Sejak pertama kali kami bertemu di SMA, dia selalu menjadi sosok yang konsisten, yang diam-diam ada, yang meskipun dulu sering saya ceng-cengin, ternyata adalah seseorang yang "bertahan" atau "tertahan" dalam perjalanan ini bersama saya. (kisah ini pernah saya tulis di tulisan sebelumnya berjudul : Tidak Pernah Hilang)

Istriku juga bukan orang yang akan menyusun pidato panjang tentang bagaimana ia mencintai saya, tapi ia menunjukkan itu dengan cara yang lebih nyata: dengan mengingat detail kecil, dengan cara ia tak henti-hentinya mengingatkan apa yang terbaik untuk saya, dengan bagaimana ia memastikan semuanya berjalan dengan baik utamanya terkait urusan anak dari urusan printilan sekolah hingga jadi guru di malam hari karena esoknya mereka tes sumatif harian. Kalau mendengarkan mereka belajar dengan ibunya sangat beda dengan pola saya, tapi entah kenapa it works. Saat saya yang ngajarin nilai mereka malah jelek. Ya sudah, coba besok nala atau adiknya kayak gimana ya, kalau nala rambutnya udah kayak saya mungkin pola belajarnya sama juga. Kembali lagi intinya, dia ini pengingat, ingat semuanya.

Dan mungkin yang paling khas, dia adalah orang yang bisa berbicara ribuan kata dalam sehari, sementara saya cukup dengan beberapa gumaman dan anggukan. Termasuk secara daring, tak pernah absen dalam share info-info penting baik via DM IG atau via WA, konten-konten yang ia temui di Tiktok dan semacamnya, contoh: share cara bikin es buah, aku pengen dibuatin. share teknik pijat saat pusing. share tempat-tempat vacation yang entah kapan akan terealisasi. sampai share berita-berita heboh viral yang menyangkut tempat kerja sang suami. Kadang saya tak merespon, kadang jempol, atau respon dengan satu kalimat/ rangkaian kata yang merupakan kata terkahir dari statemennya. Contoh: share tempat vacation via tiktok yang suka ngga nyantumin alamat tempatnya di video nya atau nyantumin tapi di akhir video, trus instingku berkata cari di google, share maps nya. done. singkat responsif dan manfaat. Tapi justru itulah yang membuat kami pas—dia berbicara, saya mendengarkan. Saya tidak selalu memahami setiap kata, tapi saya selalu menikmati kehadirannya.

Istriku di mataku? Dia adalah keseharian yang tidak pernah membosankan, ketidaksempurnaan yang membuat hidup lebih berwarna, dan ketulusan yang tidak perlu diragukan. Dia adalah perempuan dengan cinta yang besar-besaran, meskipun mesranya kecil-kecilan.

Istriku, kita masih akan lama bersama. Jangan pernah bosan, aku yakin kamu ngga bosan. Aku nggak papa kamu sering tiba-tiba tanya ditengah diam suatu waktu atau saat ngobrol sesuatu apa gitu, "Ayah sayang aku ngga sih?" ,atau di tengah-tengah dinas luar kota pas WA aktif tapi belum bales chat karena lagi bales chat-chat kerjaan "Ayah kangen aku ngga sih?"

Cintaku ini sederhana bukan berarti tanpa makna. Justru dalam kesederhanaannya, cinta itu terasa lebih nyata—bukan sekadar kata-kata manis atau janji muluk, tetapi hadir dalam bentuk perhatian kecil, rutinitas sehari-hari, dan kebersamaan yang terus diperjuangkan. Cinta bukan tentang kemewahan, tapi tentang perjuangan untuk tetap ada, tetap bertahan, dan terus memilih satu sama lain setiap harinya.

Aku sayang kamu. Mari menyambut jagoan kita Ridwan junior.


Foto: Saat masih di surabaya            Foto: Nala masih seuprit, badan langsung kepala
Naik pickup Om Apa                        gelang tangan kejepit lemak



Selasa, 17 Oktober 2023

I Need Your More More Smile :)

 "

Maka terimalah diriku

Kita akan bahagia selamanya

Kuberjanji jadi suamimu

Dan ku akan memberikan yang terbaik untukmu

Karena itu tugas cinta memberikan keindahan

Meskipun hidup

Tak selalu indah

Meskipun hidup

Tak selalu indah..

"

Lesung Pipi - Raim Laode

Somehow setelah ter-Komang Komang beberapa bulan lamanya, sebelumnya ter-Tulus Tulus karena Hati Hati di Jalan, yang menyebabkan istri ikutan suka sampai cenderung ke eneg karena playlist nya itu-itu terus di repeat. Eh release lagi lagu yang "menyentuh" hati saya..

Sedikit ada yang terbalik, karena yang punya lesung pipi itu saya (versi lagunya diceritakan kalo lesung pipi milik si tokoh perempuan", tapi isi liriknya..hmm

Tugas Cinta untuk memberi keindahan di setiap "huru-hara" rumah tangga.

...

Anak ketiga kami baru aktif-aktif nya, baru belajar jalan di genap usia tahun perdananya, suka ngoceh meski belum berbentuk kata yang sempurna. Tapi berbalikan dengan nafsu makannya yang angin-anginan. Hal ini tidak jarang membuat ibunya BeTe.

Belum lagi si kembar, usia 8 tahun, ada-ada aja. Tak habis ulah mereka kerap membuat sang ibu semakin BeTe.

...

Suatu sore, ayah kerja di kantor, ibu sedang masak puding, si kembar ditugasi untuk momong adiknya jalan-jalan di luar rumah.

Nae: (jalan masuk ke rumah sambil menangis) ibu adek nabrak aku pake sepeda..hu.. hu...
Naw: (ikutan nangis) soanya kakak ngalangin jalanku..hu..hu..
Nal: (bengong dan lama-lama ikut nangis)
Ibu: ..........

Alhasil puding gosong. Ibu geram.

...

mencintai/men·cin·tai/ v menaruh kasih sayang kepada; menyukai
https://kbbi.web.id/

Cinta itu kata kerja, kata-kata ini bisa dibilang paling ampuh selama ini. Dengan mencintai maka marah adalah luapan emosi sesaat. Tapi selanjutnya cinta yang berbicara.

Bukan suatu kebetulan kita ditakdirkan bersama, Ketidaksempurnaan keluarga kecil kita, keluarga besar kita, yasudah.. tak ada yang sempurna.

"Dan apabila tak bersamamu, kupastikan kujalani dunia tak seindah kemarin
Sederhana tertawamu sudah cukup lengkapi sempurnanya...hidup bersamamu", kata Komang.

I need your more more smile, just like our favourite blooming yellow:)

    *tekomaria depan rumah


9 Years and still counting, still and still.
2014-2023

Selasa, 28 Februari 2023

Tidak pernah hilang

Mungkin akan banyak istilah-istilah yang saya gunakan saat SMA yang tidak akan saya jelaskan secara umum pada tulisan ini, biarlah tulisan ini hanya menjadi konsumsi kami-kami saja yang faham. Terutama buat istri saya, ya mungkin istri saya akan sedikit marah setelah baca, "kok gini, harusnya kan gini, mesti lali" atau "oo..jebule ngono to" atau apapunlah reaksinya. Tapi ngga papa, tulisan ini ada untuk mendokumentasikan…beberapa kisah sebelum Makan Jeko di Mekdi.

===

"Sopo Mul sik dadi Bendahara seko kelas X?"

"Fera"


Tahun 2006, tahun dimana pertama kali kita bertemu secara official, saya kelas XI (baca: 2 SMA) saat itu diberi mandat oleh Mitramuda II yang menjabat sebagai Ketua Umum PTB WDP XXII untuk "ngancani" menjadi Ketua I. Sebelumnya saya sudah mengiyakan lobi dari Ndower (Koor Sie Sepakbola) untuk menjadi Ketua Gatel di tahun itu, tapi demi PTB saya lepas mandat itu dan kalau tidak salah kemudian digantikan oleh Wahyu Anggit. Ok lanjut, ini info tidak relevan dengan topik tulisan.

Menjadi suatu hal yang biasa di SMA kami saat itu, dimana sekelompok Panitia Inti Program Umum OBTB sering melakukan Rapat Pulsek sampai sore atau bahkan malam (biasanya yang sampai malam hanya 3 Ketua, saya, Imul dan Andi). Cukup sering rapat dilakukan tapi kita tetep jarang ketemu, kebetulan saya masih harus rutin ngajar Paskib alhasil sering skip rapat.

Dia selalu menyimpulkan bahwa saat kepanitiaan PTB nggak ada spesial-spesialnya kan? Justru itu.

Entah kenapa, mungkin sudah bawaan, saya ada ketertarikan khusus dengan perempuan "berisi" dan manis pastinya. Hal ini pula yang mendasari meskipun saya tidak begitu akrab dengannya tapi cukup sering saya ngecengin, donat berkaki, awas "ngko ngglinding" dan lain sebagainya. Beberapa kali, dan itu ternyata membekas.

===

Lagi.

Saya lupa kapan persisnya, sepertinya saat saya kelas XII, permen fox 1 kaleng yang merupakan kado dari dia aku jadikan gantungan tas sekolah. Tidak ada yang dimaksudkan ke arah manapun, tapi kembali itulah yang justru menarik, hal yang terjadi saat itu, mengalir begitu saja.

Disaat masa-masa saya menunggu pengumuman kelulusan, tahun 2008, karena cukup lama saat itu lebih dari 1 bulan, lagi-lagi saya tidak begitu ingat persis apa yang detil terjadi, hanya saja di suatu hari di tengah-tengah saya mencari kesibukan sebagai pegawai freelance (waiter di sebuah restoran yang dikelola Bapak) saya memutuskan untuk mengirim sebuah text message kepadanya, belum jamannya WA saat itu. Menarik jika dibaca lagi isi text nya. Isi text itu lah yang sebenarnya mendasari cerita makan Jeko di Mekdi.

Lulus SMA terlewati, kami lanjut berkuliah di kampus yang sama namun berbeda fakultas. Saya disibukkan dengan kegiatan robotika, kalau dia, sepanjang yang saya tahu, kesibukannya di Buletin Fakultas dan PSM. Komunikasi antara saya dan dia masih ada-ada saja, seingatku saat itu pakai YM. Ya obrolan biasa, sesekali. Tapi ada.

2011 saat menjelang semester akhir, dia jadi penonton saat saya lomba robot di GSP (saya yang kasih slot tiket, meski kemudian tim saya kalah di perempat final), berlanjut kami ngobrol sesekali dan ya lagi-lagi ternyata dia masih ada di benak saya. Dia tidak hilang.

Kita sama-sama berjalan begitu saja, kita (semoga dia juga) bukanlah tergolong orang yang mendambakan secara hiperbolis makna cinta. Kita saling suka, ada ketertarikan.

Mungkin memang tulisan ini tidak menarik karena tidak ada klimaks ataupun alur yang mengagetkan dalam runutan sebagaimana tulisan-tulisan pada umumnya. Tidak ada konflik, tidak ada apa-apa. Tapi garis bawah simpulan yang menjadikan kisah ini menarik bagi saya justru itu. "Persistence". Tidak harus mempunyai hubungan yang mengagetkan, atraktif. Cukup persistence, selalu ada, tidak pernah hilang.

===

Kita saling melengkapi, banyak yang tidak ada di saya, tapi ada di dia. Dan sebaliknya.

You are Thirty Two, No matter what I'm still Loving you

The art of love is largely the art of persistence ~Albert Ellis




Jumat, 16 Desember 2022

Takkan Kemana Mana

Perjalanan membawamu bertemu denganku, kubertemu kamu.. gitu kata Tulus. Semua sudah tertulis di Lauhul Mahfudz, sudah menjadi kehendak-Nya kalau kamu jadi istriku, anakku yang pertama sekaligus kedua adalah sepasang kembar perempuan, dan kali ini anak ketiga pun juga perempuan. Alhamdulillah.

dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

Siapa yang memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan, minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka semuanya akan menjadi tameng dari neraka pada hari kiamat. (HR. Ahmad 17403, Ibnu Majah 3669, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Wallahu a'lam..

Yang pasti kehidupanku semakin ramai, secara total ada 4 kaum hawa mengelilingi saya di dalam rumah. Sungguh benar adanya, cuitan cuitan makhluk Tuhan ini di rumah membuat rumah (semakin) tak lagi sepi.

Bulan Juli tahun ini anak ketiga saya lahir, sehat, putih, besar, dan keras tangisannya. Namun semakin lengkap karena selain ini merupakan pengalaman pertama kami meng-handle kelahiran bayi tanpa bantuan orang tua, juga kelahiran ini kami lakukan di kota perantauan. Lebih-lebih, qadarullah, kami sekeluarga terkena covid beberapa pekan sebelumnya, dan kami sungguh khawatir. Karena kami masih positif di saat menjelang HPL. Betul positif Covid.

Sepulang saya dinas luar kota (dari Batam), badan terasa aneh, yang paling terasa itu pegelnya nggak karuan, tapi karena pada dasarnya saya itu orang yang cuek bahkan dengan kondisi tubuh sendiri, jadi ya sudah terabaikan. Eh ternyata itu gejala covid. Antigen saya H+1 saya pulang ternyata (+). Istri tertular, si kembar pun.

Jika diingat-ingat sungguh berat saat itu, tapi ya ternyata kita bisa melalui dan sampai di titik ini. Si Bayi sudah 5 bulan, bentar lagi akan MPASI. Kemarin melihat dia "ngenyut" potongan apel saja rasanya senang bukan main, tak sabar melihat dia makan yang lainnya. Lucu memang anak bayi ini.

....

Kalo kata orang-orang,

"Nggak kerasa ya sudah setahun menikah, kayaknya kemarin baru ijab.."

"Nggak kerasa ya sudah 5 tahun menikah, kayaknya kemarin baru aja kenal di kegiatan sekolah"

"Nggak kerasa ya.."

...

Kerasa kok, sejak 2014 saya merasakan semua, roller coaster kehidupan, sedih, bahagia, terharu, marah, jengkel, gemes, cinta dan RINDU..

Thanks to my life-long commitment, beloved Feraaw,

You'll be in my heart.. lets grow up these 3 kids together, banyak hal yang tidak sempurna dalam kisah kita tapi percayalah, aku tidak akan kemana-mana.

Janji..Janji..Takkan..Kemana-mana..

Gambar: our complete 5


Sabtu, 16 Oktober 2021

7 tahun, jatahnya 021

 Tak terasa sudah masuk di kuartal akhir tahun 2021,

Setahun ke belakang yang masih dipenuhi oleh agenda pemenuhan protokol kesehatan, C-19 yang mulai masuk di Indonesia sejak awal 2020 “ternyata” hingga sekarang masih ada. Wabah ini saya kira waktu itu ya hanya “sebentar” saja, tapi ternyata menjadi semacam pandemi, berlarut-larut hingga hari ini. Alhamdulillah keluarga kecil saya aman, meski dengan penuh kekhawatiran selama lebih dari setahun kebelakang, penuh keparnoan akan berbagai kondisi, kejadian di sana sini, tetangga sekomplek silih berganti positif terjangkit, mengingat kami sekarang sudah mulai berkumpul kembali dalam 1 atap di kota 021.

Back to topic,

Postingan blog 17 Oktober tahun lalu saya masih sendirian di kosan daerah mampang prapatan, masih LDM short term, kalau dulu ada namanya PJKA (pulang jumat kembali ahad), kalau sekarang namanya PWKW (pulang WFH kembali WFO) maaf agak mekso. Sembari waktu itu berharap C-19 akan bisa segera selesai, dan keluarga nanti bisa boyongan dengan normal-normal saja. Tapi kenyataan berkata lain, jika harus menunggu C-19 kelar bisa jadi LDM nya akan terus-terusan bukan short term lagi, dan hal ini tidak akan mungkin bisa bersahabat bagi saya dan istri saya. Karena kita ini anti LDM, hati kami tidak (belum) bisa mentoleransi LDM, sangat susah LDM bagi kami yang sejak awal setelah akad langsung memutuskan untuk bersama berdua, susah duka dihadapin tidak hanya batin, namun benar-benar secara lahir bersama berdua, hingga si kembar lahir akhirnya agak lumayan dihadapin berempat 😊.

Ngomong-ngomong LDM, eh nggak jadi, nggak usah diomongin, untuk saya yang orangnya cuek parah pastilah tau sendiri gimana menghadapi LDM.. Sudahlah, kalau toh nanti ada kejadian LDM (karena kerjaan sekarang ini memungkinkan adanya mutasi, dsb) ya short term aja ya, dilanjutin 1 atap lagi kemanapun itu bagaimanapun caranya, apapun kondisi-kondisi terdampaknya, gimana? Sepakat?

“Bersamaku kau aman,

Bersamamu aku nyaman”

-Dayat Piliang-

Naik roller coaster selama 7 tahun, kadang naik kadang turun, kadang sedih namun sering bahagia, kadang marah namun sering baikannya, kadang jengkel namun lebih sering sayangnya. Banyak kenikmatan yang sudah kita dapat, banyak rencana-rencana Allah yang tiba-tiba saja menyuratkan kita sampai kondisi sekarang ini. Mengapa dulu harus A dulu jika bisa langsung B, tapi bisa jadi tanpa A maka B tidak akan tercapai, sudah ada garisnya..

Sayang,

Anak kita sudah SD ternyata, kalau dalam deret matematika, Usia pernikahan kita = N, Usia anak kita = M, maka M=N-1, jika N = 7 maka M= N-1 = 7-1 = 6 (Usia SD kelas 1). Semoga, si kembar sehat-sehat terus, jadi anak yang berkembang dengan baik secara intelegency, fisik, mental maupun spiritual. Sholehah ya nak...

Terus untuk calon adik dari si kembar yang masih dalam perjalanan menuju alam kandungan, semoga segera ada di waktu yang diridhoi Allah, mau berapa adik lagi? 2/3/4? Kembar lagi?

…

0274, 031 sudah kita lalui di selama kurang lebih 3 dekade. Now it’s the time for 021. Welcome to the real jungle kalo kata orang-orang. Happy 7th Anniversary, may Allah give the best for us, His plan is the best plan. Trust me.



Gambar diambil dari 3 postingan terakhir IG @ridwanwidoyoko_

Sabtu, 17 Oktober 2020

6

Di tengah kehirukpikukan pandemi, huru hara demonstrasi, kepenatan ibukota.

Hampir 4 bulan saya (dan tentunya bersama keluarga kecil saya) memutuskan untuk pindah ke ibukota, mencoba peruntungan baru. Meskipun ya dikarenakan satu dan lain hal, keluarga kecil saya untuk sementara masih saya "titip"kan di rumah mertua di Jogja. Bukanlah hal yang membahagiakan, tapi setidaknya menjadi pilihan terbaik untuk kondisi saat ini, bagi saya sebagai seorang newcomer di ibukota yang sedang dalam masa PSBB. Kemampuan berbahasa jawa timuran yang sedikit banyak saya kuasai semenjak selama 7 tahun sebelumnya saya sempat singgah di kotanya Bu Risma itu bukanlah skill yang mampu mendongkrak kepedean saya untuk langsung ujug-ujug boyongan keluarga kesana dimasa kelabu ini. "Wes ayo pokok budhal ae, gak lapo lapo wes, amaan pikir mene". Tidak. Jogja setidaknya better daripada Jakarta.

Ya sudah, coba kita bahas topik lain. Jadi begini..kemarin malam istri saya WA kurang lebih isinya gini, "just info besok udah tanggal 17". Langsung mak deg aku, tadi pagi saya cek calender di HP sambil bertanya-tanya kok alarm remindernya nggak jalan ya. Perasaan tahun lalu udah jalan remindernya, saya set 3 hari sebelum hari-H, saya khawatir gara-gara sering skip alarm karena kebiasaan mungkin.

Saya sungguh lemah dalam mengingat, kebalikannya istri saya sungguh handal dalam mengingat. Saya sering beberapa kali dibuat kagum dengan kemampuannya untuk mengingat seperti pada kasus total cost breakdown dari ucapan bapak bakul angkringan saat menghitung bill, jadi bisa tahu harga nasi kucing berapa susu jahe berapa sate berapa gorengan berapa, dalam sekali dengar. Hal ini juga berlaku pada tempat-tempat jualan lainnya yang metode pembayarannya mirip, pembeli datang ke penjual menyebutkan apa yang dibeli lalu penjual menjawab masing-masing harga untuk ditotal. Istri saya ingat semua.



6 years. Bisa dianggap masih 6 tahun atau sudah 6 tahun, tergantung sudut pandang. Coba kita bahas satu-satu.

Sudut pandang pertama masih 6 tahun, secara kaidah kata "masih" berarti tersembunyi makna bahwasanya 6 tahun itu angka yang relatif kecil karena sebenarnya masih ada belasan atau bahkan puluhan tahun ke depan yang masih harus ditempuh. Kamu masih anak kemarin sore kawan, 6 tahun itu usia baru masuk SD masih ingusan, ditunjuk guru malu-malu, masih suka random, marah gajelas.

Sudut pandang kedua sudah 6 tahun. Yap, sudah 6 tahun atau 72 bulan atau sekitar 2.190 hari. Sudah ribuan hari berlalu, sudah semakin saling tahu sama tahu, semakin memahami satu sama lain.

Entah masih atau sudah,yang penting pada intinya di 2020 ini banyak hal terjadi di berbagai belahan dunia, begitu pula di dunia keluarga kecil kami, banyak harapan muncul dibalik krisis di sana-sini. Semoga semuanya membaik, dunia bahagia, keluarga kecil kami bahagia.

Selamat 6 tahun usia pernikahan dek,

"I will always love you..."

       Foto diambil 3 Okt 2020 saat WFH di jogja
        Kesempatan bisa jogging berdua (lagi) :)

Rabu, 17 Oktober 2018

Buru-Buru

17th Oktober

Sweet seventeen,

Bukannya ingin mensakralkan arti sebuah tanggal, hanya saja ingin membuat titik pengingat bahwa pada tanggal itu pernah berlangsung suatu momen teramat penting, sebuah ikatan mistaqan ghaliza diantara kami, ialah seorang saya dan istri saya tercinta Ferawati.

Hmm, mari kita mulai bersajak romantis,
Separuh windu telah dilalui, beratus hari terlewati, beribu palung rindu sempat kami alami, berjuta kasih telah saling mengisi, bersatu padu bagimu negri, gemah ripah loh jinawi.
…

Nggak jadi, susah bikin puisi, coba uthak athik mathuk.
Tanggal lahir istri saya 28, 2 + 8 = 10 = Oktober = Bulan pernikahan. Tanggal pernikahan 17, 1 + 7 = 8 = tanggal lahir saya. Luar biasa kan, seperti sudah direncanakan. Hahahaha.
…

Kurang menarik ya? Oke skip.
Coba ganti cara lain, mmmm, kayak gini kayaknya menarik, mari kita mulai,

…

Terimakasih istriku yang selalu,
Mbangunin sholat subuh,
Nyuruh buru-buru mandi buat kerja,
Nyuruh buru-buru sarapan biar gak telat kerja,
Nyuruh buru-buru minum obat kalo terdengar sentrup-sentrup dikit,
Nyuruh buru-buru ambilin sikat gigi dan odol buat anak-anak kalo malem,
Nyuruh buru-buru nyervis AC karena udah nggak dingin,
Nyuruh buru-buru bungkusin paket buku yang laku kejual,
Nyuruh buru-buru cabut colokan magic jar biar irit listrik dan katanya nggak baik juga buat nasinya kalo kelamaan dipanasin,
Nyuruh buru-buru ganti channel tv yang disuka padahal acaranya belum mulai,
Nyuruh buru-buru beli bubble wrap buat bungkus paket buku padahal masih banyak,
Nyuruh buru-buru keluar rumah buat naik motor jalan-jalan sama anak-anak
Nyuruh buru-buru beli bensin padahal garis strip nya masih agak diatas,
Nyuruh buru-buru merem tidur padahal belum ngantuk,
Dan….

Udah lah itu aja, nggak kelar-kelar kalo ditulis semua
Makasih ya istriku atas seluruh bentuk kepedulianmu untuk menunaikan kewajibanmu, merawat suamimu😊
…

Jangan lelah untuk saling mengingatkan,
Untuk masing-masing dari kita menjadi suami-istri yang baik, ayah-ibu yang baik, anak-menantu yang baik, saudara yang baik, teman yang baik, tetangga yang baik, dan yang paling penting menjadi hamba Allah yang baik.

4 tahun dan akan terus bertambah.
 …

With love


Me.
 
Foto diambil : 15 November 2014 di sebuah kafe di surabaya
(abaikan orang dibelakang, maaf saya nggak bisa edit T-T)

Selasa, 03 April 2018

Silver Lining

Sok banget atuh judulnya, “keminggris”..
Ya sudahlah, mari dibaca dulu aja, barangkali nyambung.

…

Dari ratusan, ribuan kata, belum afdhol rasanya kalau sampai hari ini belum ada tulisan di blog yang bercerita, berkeluh kesah, bersuka ria, tentang ibunya anak-anak yang juga berkarir merangkap menjadi istri saya, perkenalkan Ferawati Dwiningrum.

Gadis Klaten, yang sudah lahir ke dunia ini dengan sehat wal ‘afiat (alhamdulillah) lebih dari seperempat abad yang lalu, dan pada akhirnya telah memutuskan untuk duduk disamping saya berpadu rindu, berjanji tuk setia selalu.

Sebenarnya tidak melulu tepat juga jika istri saya dibilang sebagai gadis klaten, mungkin lebih tepat dibilang numpang lahir saja :D. Mari kita kilas balik sebentar, jauh bertahun-tahun sebelumnya bapak mertua saya (baca: bapaknya istri saya) memilih untuk melakukan urbanisasi ke Kota Jogja demi kelayakan hidup yang lebih baik, pilihan yang cukup beresiko, tidak seperti saudara-saudaranya yang cenderung memilih untuk menetap atau justru melenggang ke Ibukota. Beliau berkecimpung di dunia administratif kesehatan negara, “melayani” rakyat Jogja, berniat tulus ikhlas untuk membantu sesama, berusaha sebaik mungkin agar masyarakat mendapatkan apa yang menjadi haknya, sungguh mulia kan? Mari ucapkan aamiin bersama-sama agar semua aparatur sipil negara bertindak seperti itu, jangan malah jadinya ngeribetin ya :)

Nah, simpulan cerita barusan adalah sebenarnya istri saya adalah wong jogja. Masa sekolah dihabiskan di kota istimewa ini, setelah tentu saja semenjak 2014 daku boyong dirinya ke Surabaya, sebagai wujud tanggung jawab seiya sekata ikrar terucap sepenuh jiwa. Dan… ya, ia percaya.

Melihat narasi tentang istri saya tadi, jadi semacam ada yang nyambung. Istilah kata, ada silver lining nya. Sebagaimana saya yang sebenarnya pada saat itu berdomisili di Bantul, tapi bapak minta saya untuk tetap sekolah di Kota Jogja. Ya, bisa jadi karena “polah” para bapak ini sehingga saya dan istri saya bertemu.

Ya, bertemu, baru sekedar bertemu. Lalu?



image by : https://orig00.deviantart.net/e918/f/2012/025/5/7/silver_lining_by_jordan_austin-d4nkp92.jpg