Sabtu, 17 Oktober 2026

Selusin

Dua belas tahun menikah.

Kalau dipikir-pikir, lumayan juga. Sudah melewati banyak hal bersama, mulai dari yang serius sampai yang sebenarnya tidak penting-penting amat, tetapi entah kenapa bisa menjadi bahan obrolan panjang. Dua belas tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Banyak yang berubah selama itu. Cara berpikir, cara menghadapi masalah, cara melihat masa depan, bahkan cara memahami kebahagiaan.

Dulu mungkin kita membayangkan kehidupan pernikahan sebagai perjalanan yang semakin lama semakin tertata. Punya pekerjaan, membangun keluarga, membesarkan anak-anak, lalu menjalani hidup dengan ritme yang kita harap bisa diprediksi.

Ternyata, hidup punya cara bercerita sendiri. 2026, rasanya hidup sedang rajin-rajinnya memberikan kejutan.

Dalam beberapa bulan terakhir, kebersamaan kami seperti sedang diuji, se-diuji-ujinya. Setelah menyelesaikan perjalanan di Kalimantan, akhirnya kembali. Sebentar kembali hidup normal, tetiba ada tugas dari khayangan selama sebulan yang sangat menguras hati, sekitar sebulan berjalan dengan penuh drama, setiap pulang selalu disambut dengan, "gimana hari ini? ada apa lagi?", akhirnya kemudian selesai tugas itu, tapi tidak untuk kembali normal, tapi ternyata saya harus melanjutkan ke Surabaya. 

Iya, kaget.

Setiap mengingat-ingat drama dalam beberapa waktu terakhir ini, masih sering terpikir, kok bisa ya ini terjadi kepada saya? kenapa?

Bagi orang yang melihat dari luar, mungkin ini hanya soal pekerjaan. Pindah penugasan, menjalankan tanggung jawab baru, kemudian pindah kota. Hal yang lumrah dalam perjalanan karier seseorang. Namun, bagi yang menjalaninya, setiap perubahan selalu membawa cerita lain yang tidak seluruhnya terlihat. Ada rencana yang harus disesuaikan, kebiasaan yang harus dibangun kembali, kenyamanan yang harus ditinggalkan, dan tentu saja keluarga yang ikut merasakan dampaknya. Sebab, dalam setiap keputusan pekerjaan, saya tidak pernah benar-benar menjadi satu-satunya orang yang berpindah.

Ada istri dan anak-anak yang ikut masuk dalam perhitungan. Ada rumah dengan rutinitasnya, ada waktu bersama yang harus diatur ulang, dan ada hal-hal sederhana yang baru terasa berharga ketika tidak lagi mudah dilakukan setiap hari. Di tengah semua perubahan itu, saya justru semakin sering memikirkan hal-hal kecil yang selama ini mungkin terasa biasa saja. Hal-hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaian karier, tetapi diam-diam menjadi bagian paling menyenangkan dari kehidupan.

Dalam tulisan ini saya ingin membagikan berbagai momen-momen itu, agar tertulis, agar bisa dibaca lagi nanti besok dengan senyum-senyum, atau bahkan bisa membuat mata basah kalau kangen :')


1. Ternyata, Urusan Pagi Tidak Sesederhana Kelihatannya

Salah satu pengalaman yang cukup membuka mata terjadi ketika saya diminta mengambil alih urusan pagi di rumah. Tugasnya terdengar sederhana: mempersiapkan anak-anak untuk berangkat sekolah. Apa susahnya? Bangun pagi, siapkan ini-itu, pastikan anak-anak mandi, sarapan, bekal siap, lalu berangkat sekolah. Rutinitas yang setiap hari dijalani, mestinya bukan sesuatu yang luar biasa.

Ternyata, saya terlalu percaya diri.

Pagi itu perlahan berubah menjadi kekacauan kecil. Bekal belum disiapkan, air panas belum tersedia, dan Nala akhirnya harus mandi menggunakan air dingin. Satu urusan belum selesai, urusan lain sudah menunggu. Sementara waktu terus berjalan tanpa mau berkompromi. Rasanya seperti mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus, semuanya punya tenggat waktu yang sama, dan tidak ada satu pun yang bisa ditunda.

Hanya istri saya yang bisa.


2. Obrolan yang Bisa Ke Mana-Mana

Belakangan ini, saya juga sering teringat hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja. Naik motor berdua, keliling kompleks sore-sore. Tidak ada tujuan khusus, tidak sedang mengejar sesuatu. Hanya menikmati jalanan sambil ngobrol ngalor-ngidul. Kadang membicarakan hal penting, kadang membicarakan sesuatu yang sebenarnya tidak penting sama sekali, sampai obrolan ke pipi Mas Ayam Kriuk yang goyang-goyang saat memasak. Tawamu sampai "kemekelen" saat itu :)

Belum lagi membahas pemilihan ketua paguyuban. Sesuatu yang mungkin bagi orang lain biasa saja, tetapi bisa menjadi diskusi panjang dengan berbagai sudut pandang, analisis, dan kesimpulan yang belum tentu dibutuhkan siapa-siapa. "Mau pilih nomor berapa? Kalau nomor 1 ibu paguyubannya nanti kurang oke"

Kadang kami membicarakan pekerjaan saya yang begitu anehnya. Ada cerita yang perlu dijelaskan panjang lebar supaya masuk akal, ada kejadian yang justru semakin diceritakan semakin membingungkan. Istri saya sering kali bisa membaca muka saya, raut muka yang sedikit banyak bisa bercerita ada kejadian apa di kantor hari itu, terutama di saat masa-masa penugasan dari khayangan.

Lalu, dari urusan pekerjaan yang aneh, obrolan bisa melompat ke share-share an tiktok atau thread atau IG tentang kondisi Indonesia yang kadang lucu, kadang ironis, dan kadang membuat kami hanya bisa saling pandang sambil bertanya-tanya: sebenarnya ini harus ditanggapi dengan serius atau ditertawakan saja? Baik dari korupsi, karhutla, bahkan yang aneh-aneh lainnya... sunggu obrolan pasutri yang sangat berbobot.

Begitulah. Satu topik bisa membawa kami ke mana-mana.

Ternyata, setelah dua belas tahun bersama, kedekatan bukan hanya soal mengetahui kebiasaan pasangan atau hafal makanan kesukaannya. Ada kenikmatan tersendiri ketika kita masih bisa menjadi teman ngobrol bagi satu sama lain. Teman membahas hal-hal remeh. Teman mengomentari hal-hal absurd. Teman mengeluhkan pekerjaan. Teman menertawakan ironi kehidupan. Sekaligus teman untuk membicarakan hal-hal yang paling serius ketika malam semakin larut. Hidup sudah cukup serius di luar sana. Mungkin kita memang membutuhkan seseorang yang membuat hal-hal kecil terasa layak untuk dibicarakan.


3. Serial Drama yang Tidak Pernah Kehabisan Episode

Tentu saja, obrolan kami tidak melulu soal pekerjaan, masa depan, atau kondisi Indonesia yang kadang lebih mudah ditertawakan daripada dipahami. Ada juga serial drama rumah tangga yang sepertinya tidak pernah kehabisan episode.

Drama ART, misalnya.

Entah sudah berapa kali topik ini mengisi percakapan malam kami. Selalu ada cerita baru, kejadian yang tidak terduga, atau hal-hal yang kalau diceritakan kepada orang lain mungkin terdengar sepele, tetapi di dalam rumah bisa menjadi bahan diskusi panjang. Mulai dari urusan sehari-hari sampai berbagai kejadian yang menuntut kami untuk kembali berpikir, berdiskusi, dan mencari jalan keluarnya bersama.

Belum lagi tingkah Nala, yang sepertinya selalu punya bahan cerita tersendiri.

Ada saja keunikan dan kehebohannya, baik di sekolah maupun di rumah. Kadang membuat kami tertawa, kadang mengernyitkan dahi, dan kadang membuat kami saling bertanya, sebenarnya anak ini dapat ide dari mana lagi? Yang menarik, karakter Nala terasa begitu berbeda dibandingkan dengan kakak-kakak kembarnya. Tumbuh dalam keluarga yang sama, tetapi membawa warna yang berbeda. Cara bereaksi berbeda, tingkahnya berbeda, dan tentu saja cara menghadapi keseharian pun punya keunikan sendiri.

Lalu, di tengah semua itu, hadir pula cerita tentang perkembangan Naqa, si bontot, yang semakin hari semakin punya warna dalam kehidupan rumah. Hubungannya dengan Nala juga tidak kalah menarik. Ada masa ketika keduanya terlihat akur, tetapi tidak lama kemudian sudah terlibat adu mulut, adu tangan, atau saling jail hanya karena berebut mainan atau Naqa yang memang suka jahil apalagi melihat kakaknya tidur malah ditowel towel. Hadehh.

Dan semua proses itu, dari drama ART sampai perebutan mainan antara Nala dan Naqa, menjadi bagian dari cerita yang kami bagi berdua. Mungkin bagi orang lain, ini hanya rutinitas keluarga biasa. Tidak ada pencapaian besar, tidak ada peristiwa luar biasa, apalagi sesuatu yang layak diberitakan. Tetapi bagi kami, cerita-cerita itulah yang membuat sebuah rumah terasa hidup.

Rumah bukan selalu tempat yang tenang. Kadang justru berisik, berantakan, dan penuh kejutan.


4. Romantis Sedikit, Anak-Anak Ikut Campur

Ngomong-ngomong soal kemesraan, ternyata setelah sebelas tahun menikah, urusan romantis kami punya tantangan tersendiri. Bukan karena sudah kehabisan bahan romantis, tetapi karena ada pihak-pihak kecil yang sepertinya merasa perlu ikut mengawasi. Momen mesra kami sering kali tidak berlangsung lama sebelum akhirnya mendapat interupsi.

Contohnya ketika sedang menemani Nala tidur. Namanya juga orang tua, sesekali ingin berdekatan dengan pasangan sendiri. Baru juga ada gerak-gerik sedikit, misalnya berpelukan, eh, Nala sudah menangkap sinyal bahaya. Reaksinya bisa langsung berubah. Mulai ngambek, lalu melorot-melorot seperti hendak turun dari kasur, kemudian tidak mau tidur dan memilih menjauh.

Kalau Nala punya cara sendiri untuk menyampaikan keberatannya, Naqa punya strategi yang jauh lebih sederhana: menyelip.

Entah bagaimana posisinya, tahu-tahu si bontot sudah berada tepat di tengah-tengah kami. Ada Ayah di satu sisi, Ibu di sisi lain, dan Naqa mengambil posisi strategis di antara keduanya. Selesai sudah.

Kalau dipikir-pikir, kehidupan rumah tangga memang penuh kejutan. Dulu, ketika masih berdua (meski momen berdua hanya beberapa bulan saja sebelum akhirnya hamil dan muncul si kembar), kami bisa menentukan sendiri kapan ingin mengobrol lama, kapan ingin berdekatan, dan kapan ingin menikmati waktu tanpa gangguan.

Toh, dua belas tahun ini mengajarkan bahwa kehidupan bersama tidak selalu berjalan sesuai rencana. Bahkan urusan pelukan pun bisa berubah menjadi drama keluarga.

...

Lalu, Apa yang Sebenarnya Kita Cari?

Kini, babak baru itu membawa saya ke Surabaya. Kota yang akan menjadi tempat bekerja, tempat belajar hal-hal baru, dan tempat menjalani rutinitas yang berbeda. Ada semangat untuk memulai, tetapi tentu ada pula hal-hal yang perlu disiapkan dan dikorbankan. Jarak, waktu, dan urusan keluarga kembali menjadi bagian dari perhitungan.

Saya belajar bahwa setiap perpindahan selalu membawa dua hal sekaligus: sesuatu yang harus ditinggalkan dan sesuatu yang harus diperjuangkan. Dan mungkin, semakin bertambah usia pernikahan, semakin saya memahami bahwa keberhasilan tidak cukup diukur dari seberapa jauh kita melangkah dalam pekerjaan. Ada ukuran lain yang jauh lebih sunyi, tetapi tidak kalah penting.


Apakah kita masih punya waktu untuk mendengarkan cerita anak-anak?


Apakah kita masih bisa hadir ketika keluarga membutuhkan kita?


Apakah segala kesibukan yang kita jalani benar-benar membawa kita menuju kehidupan yang ingin kita bangun bersama?

Sebab, karier mungkin membawa kita ke berbagai tempat. Jabatan bisa berubah, tanggung jawab bisa bertambah, dan kota tempat kita tinggal bisa berganti.Tetapi, pada akhirnya, ada orang-orang yang ingin kita ajak menikmati hasil dari semua perjalanan itu. Merekalah alasan mengapa kita berangkat, bertahan, dan berusaha pulang.

...

Untuk Ferawati Dwiningrum, selusin tahun, perasaan cinta kita sudah next level. Mencintai itu memahami, mencintai itu memaafkan, mencintai itu menghargai, mencintai itu ya yang kita lakukan dua belas tahun ini, bersama empat anak-anak kita.

Semoga kita tidak hanya semakin lama bersama, tetapi juga semakin pandai menjalani hidup bersama.

Dan semoga, setelah dua belas tahun ini, saya masih menjadi orang yang ingin kamu ajak bercerita tentang apa saja. Sebab, mungkin salah satu bentuk pulang yang paling kita butuhkan bukanlah sekadar kembali ke sebuah rumah. Melainkan kembali kepada seseorang yang membuat kita ingin bercerita, tertawa, mengeluh, dan menjalani semua keanehan hidup ini bersama-sama.

Berkali-kali, untuk perjalanan-perjalanan berikutnya.




















*) foto keluarga setengah lusin (klaten, 2026)


Rabu, 18 Juni 2025

Punya anak (lagi)

 Benar, ucapan adalah doa.

Mungkin belasan tahun yang lalu, saat kami masih dalam tahap pdkt, sempat tertulis pada lembaran chat sebuah platform sosial media, dengan segala uthak athik mathuk muncul pernyataan "punya anak empat".

Salah satu uthak athik mathuk yang paling saya ingat adalah selisih jumlah huruf pada nama kami berdua, Ridwan Widoyoko = 14 huruf, Ferawati Dwiningrum = 18 huruf, selisih 4. Kemudian ada lagi terkait tanggal lahir kami, saya tanggal 8, istri tanggal 28, 8 : 2 = 4.

Dan ternyata anak kami sekarang beneran 4. Masya Allah.

Jujur saja perjalanan anak ke-4 ini cukup mengagetkan. Meski kami sama-sama mengimani rukun iman ke 6 yaitu Qada dan Qadar, memang benar semuanya ini sudah benar-benar tertulis di lauhul mahfuz, "Hai Ridwan dan Fera anak kalian 4". Tidak bisa mengelak.

...

Bulan mei lalu, Naqa lahir, sebagai anak ke-empat kami, sekaligus anak laki-laki satu-satunya yang kami punya. Dia akan membersamai ketiga kakak perempuannya, si Kembar 10 tahun dan Nala 3 tahun. Salah satu yang menjadi bukti keberkahan Naqa adalah kakaknya Nala dengan mendadak langsung lepas pampers, tanpa ada toilet training khusus. Seolah-olah dia tau budget pampers akan diberikan ke adiknya. Dan segala kepinteran-kepinteran Nala yang cukup pesat ditunjukkannya sesaat adiknya lahir, good girl.

Di satu sisi kembar tumbuh menuju seorang teenagers, perlahan peralihan dari anak-anak menjadi remaja, kelas 5 SD mereka tahun ini.

...

Perjalanan kehamilah kali ini cukup menguras hati, akhir tahun 2024 lalu menjadi saksi. Momen-momen haru, pelik, takut, khawatir, bahkan malu. Angka 4 ini seperti sudah melebihi batas normal jumlah anak. Kami berdua hanya masing-masing 2 bersaudara, teman kerabat di sekeliling kami kebanyakan 3, segelintir saja yang lebih dari itu, dan pasti selalu langsung teringat siapa-siapa saja teman kami yang anaknya "banyak".

Dan ternyata kamilah juga teman-teman itu yang anaknya "banyak". Di awal agak anek menyadarinya, tapi kemudian, ya inilah kami keluarga kecil kami yang semoga membawa berkah untuk semua, tidak hanya untuk keluarga kecil kami saja.

...

Teruntuk istriku, pada akhirnya, dari semua hal indah yang Allah titipkan di hidupku, engkaulah anugerah terbesarnya. Semoga kelak, anak-anak kita tahu betapa hebatnya ibunya — bukan hanya dalam perjuangan mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh, tapi juga tentunya dalam mencintai tanpa batas.

Dalam senyummu kutemukan tenang,
Dalam lelahmu, cinta tak pernah hilang.
Langkahmu sunyi, tapi bermakna,
Menjadi ibu, menjadi segalanya.

Untukmu, yang tak pernah meminta apa-apa,
Tapi memberi seluruh jiwa.

...

Yakin cintaku tak pernah berkurang, justru semakin bertumbuh.

"Aku mungkin tak pandai mengucap sayang setiap hari, tapi setiap langkahku, setiap peluh yang jatuh,
adalah doaku yang diam—
agar kamu dan anak-anak kita selalu dalam cukup, selalu dalam bahagia."

foto kelahiran naqa, berangkat 2 orang pulang 3 orang


Sabtu, 01 Maret 2025

Sederhana

Jika ada yang bertanya, "Bagaimana istrimu di matamu?" Saya mungkin akan butuh waktu lebih lama untuk menjawab, bukan karena tidak tahu, tetapi karena terlalu banyak hal yang bisa diceritakan. Ini beberapa diantaranya,

Istriku adalah seseorang yang bisa memberikan instruksi berulang kali tanpa merasa lelah, terutama kalau itu soal siapa yang harus mandiin nala, trus beliin nala ayam dkriuk sampe disuapin, beliin kembar lele kremes, atau ambilin puding potongin melon belah buah naga biar sama rata, hingga diminta pagi-pagi beliin 10 kue nona manis untuk bekal nala 2 hari, kalo kesiangan sering kehabisan, sore muterin nala beli onde-onde mini, malam masukin nasi sisa ke kulkas trus jangan lupa rendem tempat nasi biar besok gampang nyucinya. Daaan lain sebagainya. Sejak pertama kali instruksi itu meluncur, saya sudah paham, bahwa ini bukan sekadar permintaan—ini bagian dari dirinya, bagian dari kebiasaan kecil yang justru saya rindukan kalau sedang tidak ada.

Dia adalah perempuan dengan seribu ekspresi. Dari wajah berbinar saat makan makanan favoritnya yang sederhana dari oseng gembus, oseng kates, sayur mbayung. Wajah membara saat berulang kali menginstruksikan mandi kepada si kembar namun gerakannya lelet mulai ambil handuk sampai masuk kamar mandi bisa 10 menit, pun saat menginstruksikan sholat isya sikat gigi menjelang tidur yang tak jarang berakhir si kembar berantem di dalam kamar mandi gara-gara rebutan gayung atau ngga mau ambilin odol. Sampai wajah datar tak ada cerita diam seribu bahasa, saat suaminya berbuat tak seperti yang diharapkan. Saat diminta untuk memikirkan bagaimana caranya agar rumah kami dapat bebas dari kelabang, hewan kecil berkaki banyak nggremet-nggremet. Namun yang ada cuma solusi untuk menabur garam. Atau hal-hal lain yang kurang layak untuk ditulis di sini.

Dia bukan tipe yang akan mengungkapkan cintanya dengan kata-kata dramatis atau kejutan besar. Tapi dia selalu ada. Sejak pertama kali kami bertemu di SMA, dia selalu menjadi sosok yang konsisten, yang diam-diam ada, yang meskipun dulu sering saya ceng-cengin, ternyata adalah seseorang yang "bertahan" atau "tertahan" dalam perjalanan ini bersama saya. (kisah ini pernah saya tulis di tulisan sebelumnya berjudul : Tidak Pernah Hilang)

Istriku juga bukan orang yang akan menyusun pidato panjang tentang bagaimana ia mencintai saya, tapi ia menunjukkan itu dengan cara yang lebih nyata: dengan mengingat detail kecil, dengan cara ia tak henti-hentinya mengingatkan apa yang terbaik untuk saya, dengan bagaimana ia memastikan semuanya berjalan dengan baik utamanya terkait urusan anak dari urusan printilan sekolah hingga jadi guru di malam hari karena esoknya mereka tes sumatif harian. Kalau mendengarkan mereka belajar dengan ibunya sangat beda dengan pola saya, tapi entah kenapa it works. Saat saya yang ngajarin nilai mereka malah jelek. Ya sudah, coba besok nala atau adiknya kayak gimana ya, kalau nala rambutnya udah kayak saya mungkin pola belajarnya sama juga. Kembali lagi intinya, dia ini pengingat, ingat semuanya.

Dan mungkin yang paling khas, dia adalah orang yang bisa berbicara ribuan kata dalam sehari, sementara saya cukup dengan beberapa gumaman dan anggukan. Termasuk secara daring, tak pernah absen dalam share info-info penting baik via DM IG atau via WA, konten-konten yang ia temui di Tiktok dan semacamnya, contoh: share cara bikin es buah, aku pengen dibuatin. share teknik pijat saat pusing. share tempat-tempat vacation yang entah kapan akan terealisasi. sampai share berita-berita heboh viral yang menyangkut tempat kerja sang suami. Kadang saya tak merespon, kadang jempol, atau respon dengan satu kalimat/ rangkaian kata yang merupakan kata terkahir dari statemennya. Contoh: share tempat vacation via tiktok yang suka ngga nyantumin alamat tempatnya di video nya atau nyantumin tapi di akhir video, trus instingku berkata cari di google, share maps nya. done. singkat responsif dan manfaat. Tapi justru itulah yang membuat kami pas—dia berbicara, saya mendengarkan. Saya tidak selalu memahami setiap kata, tapi saya selalu menikmati kehadirannya.

Istriku di mataku? Dia adalah keseharian yang tidak pernah membosankan, ketidaksempurnaan yang membuat hidup lebih berwarna, dan ketulusan yang tidak perlu diragukan. Dia adalah perempuan dengan cinta yang besar-besaran, meskipun mesranya kecil-kecilan.

Istriku, kita masih akan lama bersama. Jangan pernah bosan, aku yakin kamu ngga bosan. Aku nggak papa kamu sering tiba-tiba tanya ditengah diam suatu waktu atau saat ngobrol sesuatu apa gitu, "Ayah sayang aku ngga sih?" ,atau di tengah-tengah dinas luar kota pas WA aktif tapi belum bales chat karena lagi bales chat-chat kerjaan "Ayah kangen aku ngga sih?"

Cintaku ini sederhana bukan berarti tanpa makna. Justru dalam kesederhanaannya, cinta itu terasa lebih nyata—bukan sekadar kata-kata manis atau janji muluk, tetapi hadir dalam bentuk perhatian kecil, rutinitas sehari-hari, dan kebersamaan yang terus diperjuangkan. Cinta bukan tentang kemewahan, tapi tentang perjuangan untuk tetap ada, tetap bertahan, dan terus memilih satu sama lain setiap harinya.

Aku sayang kamu. Mari menyambut jagoan kita Ridwan junior.


Foto: Saat masih di surabaya            Foto: Nala masih seuprit, badan langsung kepala
Naik pickup Om Apa                        gelang tangan kejepit lemak



Kamis, 17 Oktober 2024

Berulang-ulang

Suatu sore yang sendu di bawah langit Depok, terpantau motor Honda Beat plat AB tengah beraksi melaju membawa sepasang suami istri yang tengah momong batita-nya dengan berkeliling kampung, berharap ada kuda yg sedang merumput di Arthayasa dan mamang penjual onde onde mini membuka lapaknya

...

10 menit berlalu..

"Yah, nanti yang mandiin Nala ayah ya"

2 belokan kemudian..

"Nala nanti mandi sama ayah ya"

Setelah turunan..

"Nanti sampe rumah, Nala langsung mandiin ya"

...

Instruksi variatif, Jawaban saya juga selalu variatif, kadang jawab iya, kadang he eh, kadang hemm, kadang cuma manthuk. Gpp yang penting ada respon.

Karena semenjak instruksi pertama hingga instruksi ke 23 posisi kita masih di atas motor jadi belum ada action yg bisa dilakukan, rebus air pun masih belum karena ngga bawa ceret, boro-boro ngolesin odol di sikat gigi. Masa iya Nala mandi di atas motor. Sungguh funny kekasihku ini..

Momen instruksi berulang mandiin Nala ini sempat terulang beberapa kali di beberapa latar dan situasi yang bervariasi, pernah pas posisi saya wfh sore sore di depan laptop, instruksi meluncur sejak jam 16.00 hingga 17.00.

Sempat juga di mobil sepulang main entah darimana, kondisi yang sama, instruksi meluncur sejak km.0 nyetel maps hingga rem berdenyit di depan rumah. Dimanapun latarnya, yang paling sering tetep memang pas di motor sih. Kayak pas aja momennya. Entah kenapa alasannya, jawabannya ada di istri saya.

...

Kata Louann Brizendine, penulis dan seorang neuropsikiatri di University of California San Francisco pada tahun 2006, pria mengucapkan 7.000 kata sehari dan wanita mengucapkan 20.000 kata per hari. Hal ini juga sejalan dengan apa yang disampaikan oleh dr. Aisyah Dahlan (yang reels IG nya sering muncul di explore nya para kaum Adam, padahal seharusnya kontennya lebih dibutuhkan kaum Hawa, sungguh algoritma IG yg ngeselin. Haha. Maaf intermezzo).

dr. Aisyah Dahlan memaparkan perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah, kalau laki-laki Laki-laki dalam sehari bisa ada 2000 - 4000 kata. 1000 - 2000 bunyi vocal. 2000 – 3000 Gerakan tubuh. Rata – rata jumlah komunikasi sebanyak 7000 kata-kata. Sementara bagi kaum perempuan, perempuan dalam sehari mengeluarkan 6000 – 8000 kata. 2000 – 3000 bunyi vocal.  8000 – 10.000 Gerakan tubuh. Jadi rata – rata jumlah komunikasi perempuan sebanyak 20.000 kata-kata dalam satu hari. “Ini artinya perempuan memiliki kelebihan tersendiri yang diciptakan Allah dibandingkan dengan kaum laki-laki,”

...

Beberapa kali istri saya menyampaikan, "kita ini pas, ayah banyak andeng-andeng (baca: tahi lalat) di telinga menandakan good listener, dan aku banyak di mulut. Yang menandakan.. (isi sendiri)."

...

"BTW by the way, sewaktu nulis ini saya langsung dapet ide lagi. Topiknya "serangan doble combo", seperti apa alur ceritanya?

@Kampoeng Koneng Sentul 31 Desember 2023

@Arthayasa Kandang Jaran Kp.Grogol Depok

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan [25]: 74).

Bismillah..mari jalani kehidupan di dunia ini sebaik-baiknya untuk mendapatkan kehidupan akhirat yang terbaik. Aaamiiin..