Sabtu, 17 Oktober 2026

Selusin

Dua belas tahun menikah.

Kalau dipikir-pikir, lumayan juga. Sudah melewati banyak hal bersama, mulai dari yang serius sampai yang sebenarnya tidak penting-penting amat, tetapi entah kenapa bisa menjadi bahan obrolan panjang. Dua belas tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Banyak yang berubah selama itu. Cara berpikir, cara menghadapi masalah, cara melihat masa depan, bahkan cara memahami kebahagiaan.

Dulu mungkin kita membayangkan kehidupan pernikahan sebagai perjalanan yang semakin lama semakin tertata. Punya pekerjaan, membangun keluarga, membesarkan anak-anak, lalu menjalani hidup dengan ritme yang kita harap bisa diprediksi.

Ternyata, hidup punya cara bercerita sendiri. 2026, rasanya hidup sedang rajin-rajinnya memberikan kejutan.

Dalam beberapa bulan terakhir, kebersamaan kami seperti sedang diuji, se-diuji-ujinya. Setelah menyelesaikan perjalanan di Kalimantan, akhirnya kembali. Sebentar kembali hidup normal, tetiba ada tugas dari khayangan selama sebulan yang sangat menguras hati, sekitar sebulan berjalan dengan penuh drama, setiap pulang selalu disambut dengan, "gimana hari ini? ada apa lagi?", akhirnya kemudian selesai tugas itu, tapi tidak untuk kembali normal, tapi ternyata saya harus melanjutkan ke Surabaya. 

Iya, kaget.

Setiap mengingat-ingat drama dalam beberapa waktu terakhir ini, masih sering terpikir, kok bisa ya ini terjadi kepada saya? kenapa?

Bagi orang yang melihat dari luar, mungkin ini hanya soal pekerjaan. Pindah penugasan, menjalankan tanggung jawab baru, kemudian pindah kota. Hal yang lumrah dalam perjalanan karier seseorang. Namun, bagi yang menjalaninya, setiap perubahan selalu membawa cerita lain yang tidak seluruhnya terlihat. Ada rencana yang harus disesuaikan, kebiasaan yang harus dibangun kembali, kenyamanan yang harus ditinggalkan, dan tentu saja keluarga yang ikut merasakan dampaknya. Sebab, dalam setiap keputusan pekerjaan, saya tidak pernah benar-benar menjadi satu-satunya orang yang berpindah.

Ada istri dan anak-anak yang ikut masuk dalam perhitungan. Ada rumah dengan rutinitasnya, ada waktu bersama yang harus diatur ulang, dan ada hal-hal sederhana yang baru terasa berharga ketika tidak lagi mudah dilakukan setiap hari. Di tengah semua perubahan itu, saya justru semakin sering memikirkan hal-hal kecil yang selama ini mungkin terasa biasa saja. Hal-hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaian karier, tetapi diam-diam menjadi bagian paling menyenangkan dari kehidupan.

Dalam tulisan ini saya ingin membagikan berbagai momen-momen itu, agar tertulis, agar bisa dibaca lagi nanti besok dengan senyum-senyum, atau bahkan bisa membuat mata basah kalau kangen :')


1. Ternyata, Urusan Pagi Tidak Sesederhana Kelihatannya

Salah satu pengalaman yang cukup membuka mata terjadi ketika saya diminta mengambil alih urusan pagi di rumah. Tugasnya terdengar sederhana: mempersiapkan anak-anak untuk berangkat sekolah. Apa susahnya? Bangun pagi, siapkan ini-itu, pastikan anak-anak mandi, sarapan, bekal siap, lalu berangkat sekolah. Rutinitas yang setiap hari dijalani, mestinya bukan sesuatu yang luar biasa.

Ternyata, saya terlalu percaya diri.

Pagi itu perlahan berubah menjadi kekacauan kecil. Bekal belum disiapkan, air panas belum tersedia, dan Nala akhirnya harus mandi menggunakan air dingin. Satu urusan belum selesai, urusan lain sudah menunggu. Sementara waktu terus berjalan tanpa mau berkompromi. Rasanya seperti mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus, semuanya punya tenggat waktu yang sama, dan tidak ada satu pun yang bisa ditunda.

Hanya istri saya yang bisa.


2. Obrolan yang Bisa Ke Mana-Mana

Belakangan ini, saya juga sering teringat hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja. Naik motor berdua, keliling kompleks sore-sore. Tidak ada tujuan khusus, tidak sedang mengejar sesuatu. Hanya menikmati jalanan sambil ngobrol ngalor-ngidul. Kadang membicarakan hal penting, kadang membicarakan sesuatu yang sebenarnya tidak penting sama sekali, sampai obrolan ke pipi Mas Ayam Kriuk yang goyang-goyang saat memasak. Tawamu sampai "kemekelen" saat itu :)

Belum lagi membahas pemilihan ketua paguyuban. Sesuatu yang mungkin bagi orang lain biasa saja, tetapi bisa menjadi diskusi panjang dengan berbagai sudut pandang, analisis, dan kesimpulan yang belum tentu dibutuhkan siapa-siapa. "Mau pilih nomor berapa? Kalau nomor 1 ibu paguyubannya nanti kurang oke"

Kadang kami membicarakan pekerjaan saya yang begitu anehnya. Ada cerita yang perlu dijelaskan panjang lebar supaya masuk akal, ada kejadian yang justru semakin diceritakan semakin membingungkan. Istri saya sering kali bisa membaca muka saya, raut muka yang sedikit banyak bisa bercerita ada kejadian apa di kantor hari itu, terutama di saat masa-masa penugasan dari khayangan.

Lalu, dari urusan pekerjaan yang aneh, obrolan bisa melompat ke share-share an tiktok atau thread atau IG tentang kondisi Indonesia yang kadang lucu, kadang ironis, dan kadang membuat kami hanya bisa saling pandang sambil bertanya-tanya: sebenarnya ini harus ditanggapi dengan serius atau ditertawakan saja? Baik dari korupsi, karhutla, bahkan yang aneh-aneh lainnya... sunggu obrolan pasutri yang sangat berbobot.

Begitulah. Satu topik bisa membawa kami ke mana-mana.

Ternyata, setelah dua belas tahun bersama, kedekatan bukan hanya soal mengetahui kebiasaan pasangan atau hafal makanan kesukaannya. Ada kenikmatan tersendiri ketika kita masih bisa menjadi teman ngobrol bagi satu sama lain. Teman membahas hal-hal remeh. Teman mengomentari hal-hal absurd. Teman mengeluhkan pekerjaan. Teman menertawakan ironi kehidupan. Sekaligus teman untuk membicarakan hal-hal yang paling serius ketika malam semakin larut. Hidup sudah cukup serius di luar sana. Mungkin kita memang membutuhkan seseorang yang membuat hal-hal kecil terasa layak untuk dibicarakan.


3. Serial Drama yang Tidak Pernah Kehabisan Episode

Tentu saja, obrolan kami tidak melulu soal pekerjaan, masa depan, atau kondisi Indonesia yang kadang lebih mudah ditertawakan daripada dipahami. Ada juga serial drama rumah tangga yang sepertinya tidak pernah kehabisan episode.

Drama ART, misalnya.

Entah sudah berapa kali topik ini mengisi percakapan malam kami. Selalu ada cerita baru, kejadian yang tidak terduga, atau hal-hal yang kalau diceritakan kepada orang lain mungkin terdengar sepele, tetapi di dalam rumah bisa menjadi bahan diskusi panjang. Mulai dari urusan sehari-hari sampai berbagai kejadian yang menuntut kami untuk kembali berpikir, berdiskusi, dan mencari jalan keluarnya bersama.

Belum lagi tingkah Nala, yang sepertinya selalu punya bahan cerita tersendiri.

Ada saja keunikan dan kehebohannya, baik di sekolah maupun di rumah. Kadang membuat kami tertawa, kadang mengernyitkan dahi, dan kadang membuat kami saling bertanya, sebenarnya anak ini dapat ide dari mana lagi? Yang menarik, karakter Nala terasa begitu berbeda dibandingkan dengan kakak-kakak kembarnya. Tumbuh dalam keluarga yang sama, tetapi membawa warna yang berbeda. Cara bereaksi berbeda, tingkahnya berbeda, dan tentu saja cara menghadapi keseharian pun punya keunikan sendiri.

Lalu, di tengah semua itu, hadir pula cerita tentang perkembangan Naqa, si bontot, yang semakin hari semakin punya warna dalam kehidupan rumah. Hubungannya dengan Nala juga tidak kalah menarik. Ada masa ketika keduanya terlihat akur, tetapi tidak lama kemudian sudah terlibat adu mulut, adu tangan, atau saling jail hanya karena berebut mainan atau Naqa yang memang suka jahil apalagi melihat kakaknya tidur malah ditowel towel. Hadehh.

Dan semua proses itu, dari drama ART sampai perebutan mainan antara Nala dan Naqa, menjadi bagian dari cerita yang kami bagi berdua. Mungkin bagi orang lain, ini hanya rutinitas keluarga biasa. Tidak ada pencapaian besar, tidak ada peristiwa luar biasa, apalagi sesuatu yang layak diberitakan. Tetapi bagi kami, cerita-cerita itulah yang membuat sebuah rumah terasa hidup.

Rumah bukan selalu tempat yang tenang. Kadang justru berisik, berantakan, dan penuh kejutan.


4. Romantis Sedikit, Anak-Anak Ikut Campur

Ngomong-ngomong soal kemesraan, ternyata setelah sebelas tahun menikah, urusan romantis kami punya tantangan tersendiri. Bukan karena sudah kehabisan bahan romantis, tetapi karena ada pihak-pihak kecil yang sepertinya merasa perlu ikut mengawasi. Momen mesra kami sering kali tidak berlangsung lama sebelum akhirnya mendapat interupsi.

Contohnya ketika sedang menemani Nala tidur. Namanya juga orang tua, sesekali ingin berdekatan dengan pasangan sendiri. Baru juga ada gerak-gerik sedikit, misalnya berpelukan, eh, Nala sudah menangkap sinyal bahaya. Reaksinya bisa langsung berubah. Mulai ngambek, lalu melorot-melorot seperti hendak turun dari kasur, kemudian tidak mau tidur dan memilih menjauh.

Kalau Nala punya cara sendiri untuk menyampaikan keberatannya, Naqa punya strategi yang jauh lebih sederhana: menyelip.

Entah bagaimana posisinya, tahu-tahu si bontot sudah berada tepat di tengah-tengah kami. Ada Ayah di satu sisi, Ibu di sisi lain, dan Naqa mengambil posisi strategis di antara keduanya. Selesai sudah.

Kalau dipikir-pikir, kehidupan rumah tangga memang penuh kejutan. Dulu, ketika masih berdua (meski momen berdua hanya beberapa bulan saja sebelum akhirnya hamil dan muncul si kembar), kami bisa menentukan sendiri kapan ingin mengobrol lama, kapan ingin berdekatan, dan kapan ingin menikmati waktu tanpa gangguan.

Toh, dua belas tahun ini mengajarkan bahwa kehidupan bersama tidak selalu berjalan sesuai rencana. Bahkan urusan pelukan pun bisa berubah menjadi drama keluarga.

...

Lalu, Apa yang Sebenarnya Kita Cari?

Kini, babak baru itu membawa saya ke Surabaya. Kota yang akan menjadi tempat bekerja, tempat belajar hal-hal baru, dan tempat menjalani rutinitas yang berbeda. Ada semangat untuk memulai, tetapi tentu ada pula hal-hal yang perlu disiapkan dan dikorbankan. Jarak, waktu, dan urusan keluarga kembali menjadi bagian dari perhitungan.

Saya belajar bahwa setiap perpindahan selalu membawa dua hal sekaligus: sesuatu yang harus ditinggalkan dan sesuatu yang harus diperjuangkan. Dan mungkin, semakin bertambah usia pernikahan, semakin saya memahami bahwa keberhasilan tidak cukup diukur dari seberapa jauh kita melangkah dalam pekerjaan. Ada ukuran lain yang jauh lebih sunyi, tetapi tidak kalah penting.


Apakah kita masih punya waktu untuk mendengarkan cerita anak-anak?


Apakah kita masih bisa hadir ketika keluarga membutuhkan kita?


Apakah segala kesibukan yang kita jalani benar-benar membawa kita menuju kehidupan yang ingin kita bangun bersama?

Sebab, karier mungkin membawa kita ke berbagai tempat. Jabatan bisa berubah, tanggung jawab bisa bertambah, dan kota tempat kita tinggal bisa berganti.Tetapi, pada akhirnya, ada orang-orang yang ingin kita ajak menikmati hasil dari semua perjalanan itu. Merekalah alasan mengapa kita berangkat, bertahan, dan berusaha pulang.

...

Untuk Ferawati Dwiningrum, selusin tahun, perasaan cinta kita sudah next level. Mencintai itu memahami, mencintai itu memaafkan, mencintai itu menghargai, mencintai itu ya yang kita lakukan dua belas tahun ini, bersama empat anak-anak kita.

Semoga kita tidak hanya semakin lama bersama, tetapi juga semakin pandai menjalani hidup bersama.

Dan semoga, setelah dua belas tahun ini, saya masih menjadi orang yang ingin kamu ajak bercerita tentang apa saja. Sebab, mungkin salah satu bentuk pulang yang paling kita butuhkan bukanlah sekadar kembali ke sebuah rumah. Melainkan kembali kepada seseorang yang membuat kita ingin bercerita, tertawa, mengeluh, dan menjalani semua keanehan hidup ini bersama-sama.

Berkali-kali, untuk perjalanan-perjalanan berikutnya.




















*) foto keluarga setengah lusin (klaten, 2026)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar