"
Maka terimalah diriku
Kita akan bahagia selamanya
Kuberjanji jadi suamimu
cuma asal cerita saja kok sebenarnya, tapi alhamdulillah kalo ternyata bermanfaat :)
"
Maka terimalah diriku
Kita akan bahagia selamanya
Kuberjanji jadi suamimu
Mungkin akan banyak istilah-istilah yang saya gunakan saat SMA yang tidak akan saya jelaskan secara umum pada tulisan ini, biarlah tulisan ini hanya menjadi konsumsi kami-kami saja yang faham. Terutama buat istri saya, ya mungkin istri saya akan sedikit marah setelah baca, "kok gini, harusnya kan gini, mesti lali" atau "oo..jebule ngono to" atau apapunlah reaksinya. Tapi ngga papa, tulisan ini ada untuk mendokumentasikan…beberapa kisah sebelum Makan Jeko di Mekdi.
===
"Sopo Mul sik dadi Bendahara seko kelas X?"
"Fera"
Tahun 2006, tahun dimana pertama kali kita bertemu secara official, saya kelas XI (baca: 2 SMA) saat itu diberi mandat oleh Mitramuda II yang menjabat sebagai Ketua Umum PTB WDP XXII untuk "ngancani" menjadi Ketua I. Sebelumnya saya sudah mengiyakan lobi dari Ndower (Koor Sie Sepakbola) untuk menjadi Ketua Gatel di tahun itu, tapi demi PTB saya lepas mandat itu dan kalau tidak salah kemudian digantikan oleh Wahyu Anggit. Ok lanjut, ini info tidak relevan dengan topik tulisan.
Menjadi suatu hal yang biasa di SMA kami saat itu, dimana sekelompok Panitia Inti Program Umum OBTB sering melakukan Rapat Pulsek sampai sore atau bahkan malam (biasanya yang sampai malam hanya 3 Ketua, saya, Imul dan Andi). Cukup sering rapat dilakukan tapi kita tetep jarang ketemu, kebetulan saya masih harus rutin ngajar Paskib alhasil sering skip rapat.
Dia selalu menyimpulkan bahwa saat kepanitiaan PTB nggak ada spesial-spesialnya kan? Justru itu.
Entah kenapa, mungkin sudah bawaan, saya ada ketertarikan khusus dengan perempuan "berisi" dan manis pastinya. Hal ini pula yang mendasari meskipun saya tidak begitu akrab dengannya tapi cukup sering saya ngecengin, donat berkaki, awas "ngko ngglinding" dan lain sebagainya. Beberapa kali, dan itu ternyata membekas.
===
Lagi.
Saya lupa kapan persisnya, sepertinya saat saya kelas XII, permen fox 1 kaleng yang merupakan kado dari dia aku jadikan gantungan tas sekolah. Tidak ada yang dimaksudkan ke arah manapun, tapi kembali itulah yang justru menarik, hal yang terjadi saat itu, mengalir begitu saja.
Disaat masa-masa saya menunggu pengumuman kelulusan, tahun 2008, karena cukup lama saat itu lebih dari 1 bulan, lagi-lagi saya tidak begitu ingat persis apa yang detil terjadi, hanya saja di suatu hari di tengah-tengah saya mencari kesibukan sebagai pegawai freelance (waiter di sebuah restoran yang dikelola Bapak) saya memutuskan untuk mengirim sebuah text message kepadanya, belum jamannya WA saat itu. Menarik jika dibaca lagi isi text nya. Isi text itu lah yang sebenarnya mendasari cerita makan Jeko di Mekdi.
Lulus SMA terlewati, kami lanjut berkuliah di kampus yang sama namun berbeda fakultas. Saya disibukkan dengan kegiatan robotika, kalau dia, sepanjang yang saya tahu, kesibukannya di Buletin Fakultas dan PSM. Komunikasi antara saya dan dia masih ada-ada saja, seingatku saat itu pakai YM. Ya obrolan biasa, sesekali. Tapi ada.
2011 saat menjelang semester akhir, dia jadi penonton saat saya lomba robot di GSP (saya yang kasih slot tiket, meski kemudian tim saya kalah di perempat final), berlanjut kami ngobrol sesekali dan ya lagi-lagi ternyata dia masih ada di benak saya. Dia tidak hilang.
Kita sama-sama berjalan begitu saja, kita (semoga dia juga) bukanlah tergolong orang yang mendambakan secara hiperbolis makna cinta. Kita saling suka, ada ketertarikan.
Mungkin memang tulisan ini tidak menarik karena tidak ada klimaks ataupun alur yang mengagetkan dalam runutan sebagaimana tulisan-tulisan pada umumnya. Tidak ada konflik, tidak ada apa-apa. Tapi garis bawah simpulan yang menjadikan kisah ini menarik bagi saya justru itu. "Persistence". Tidak harus mempunyai hubungan yang mengagetkan, atraktif. Cukup persistence, selalu ada, tidak pernah hilang.
===
Kita saling melengkapi, banyak yang tidak ada di saya, tapi ada di dia. Dan sebaliknya.
You are Thirty Two, No matter what I'm still Loving you
The art of love is largely the art of persistence ~Albert Ellis
Perjalanan membawamu bertemu denganku, kubertemu kamu.. gitu kata Tulus. Semua sudah tertulis di Lauhul Mahfudz, sudah menjadi kehendak-Nya kalau kamu jadi istriku, anakku yang pertama sekaligus kedua adalah sepasang kembar perempuan, dan kali ini anak ketiga pun juga perempuan. Alhamdulillah.
dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
Siapa yang memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan, minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka semuanya akan menjadi tameng dari neraka pada hari kiamat. (HR. Ahmad 17403, Ibnu Majah 3669, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)
Wallahu a'lam..
Yang pasti kehidupanku semakin ramai, secara total ada 4 kaum hawa mengelilingi saya di dalam rumah. Sungguh benar adanya, cuitan cuitan makhluk Tuhan ini di rumah membuat rumah (semakin) tak lagi sepi.
Bulan Juli tahun ini anak ketiga saya lahir, sehat, putih, besar, dan keras tangisannya. Namun semakin lengkap karena selain ini merupakan pengalaman pertama kami meng-handle kelahiran bayi tanpa bantuan orang tua, juga kelahiran ini kami lakukan di kota perantauan. Lebih-lebih, qadarullah, kami sekeluarga terkena covid beberapa pekan sebelumnya, dan kami sungguh khawatir. Karena kami masih positif di saat menjelang HPL. Betul positif Covid.
Sepulang saya dinas luar kota (dari Batam), badan terasa aneh, yang paling terasa itu pegelnya nggak karuan, tapi karena pada dasarnya saya itu orang yang cuek bahkan dengan kondisi tubuh sendiri, jadi ya sudah terabaikan. Eh ternyata itu gejala covid. Antigen saya H+1 saya pulang ternyata (+). Istri tertular, si kembar pun.
Jika diingat-ingat sungguh berat saat itu, tapi ya ternyata kita bisa melalui dan sampai di titik ini. Si Bayi sudah 5 bulan, bentar lagi akan MPASI. Kemarin melihat dia "ngenyut" potongan apel saja rasanya senang bukan main, tak sabar melihat dia makan yang lainnya. Lucu memang anak bayi ini.
....
Kalo kata orang-orang,
"Nggak kerasa ya sudah setahun menikah, kayaknya kemarin baru ijab.."
"Nggak kerasa ya sudah 5 tahun menikah, kayaknya kemarin baru aja kenal di kegiatan sekolah"
"Nggak kerasa ya.."
...
Kerasa kok, sejak 2014 saya merasakan semua, roller coaster kehidupan, sedih, bahagia, terharu, marah, jengkel, gemes, cinta dan RINDU..
Thanks to my life-long commitment, beloved Feraaw,
You'll be in my heart.. lets grow up these 3 kids together, banyak hal yang tidak sempurna dalam kisah kita tapi percayalah, aku tidak akan kemana-mana.
Janji..Janji..Takkan..Kemana-mana..
Tak terasa sudah masuk di kuartal akhir tahun 2021,
Setahun ke belakang yang masih dipenuhi oleh agenda pemenuhan protokol kesehatan, C-19 yang mulai masuk di Indonesia sejak awal 2020 “ternyata” hingga sekarang masih ada. Wabah ini saya kira waktu itu ya hanya “sebentar” saja, tapi ternyata menjadi semacam pandemi, berlarut-larut hingga hari ini. Alhamdulillah keluarga kecil saya aman, meski dengan penuh kekhawatiran selama lebih dari setahun kebelakang, penuh keparnoan akan berbagai kondisi, kejadian di sana sini, tetangga sekomplek silih berganti positif terjangkit, mengingat kami sekarang sudah mulai berkumpul kembali dalam 1 atap di kota 021.
Back to topic,
Postingan blog 17 Oktober tahun lalu saya masih sendirian di kosan daerah mampang prapatan, masih LDM short term, kalau dulu ada namanya PJKA (pulang jumat kembali ahad), kalau sekarang namanya PWKW (pulang WFH kembali WFO) maaf agak mekso. Sembari waktu itu berharap C-19 akan bisa segera selesai, dan keluarga nanti bisa boyongan dengan normal-normal saja. Tapi kenyataan berkata lain, jika harus menunggu C-19 kelar bisa jadi LDM nya akan terus-terusan bukan short term lagi, dan hal ini tidak akan mungkin bisa bersahabat bagi saya dan istri saya. Karena kita ini anti LDM, hati kami tidak (belum) bisa mentoleransi LDM, sangat susah LDM bagi kami yang sejak awal setelah akad langsung memutuskan untuk bersama berdua, susah duka dihadapin tidak hanya batin, namun benar-benar secara lahir bersama berdua, hingga si kembar lahir akhirnya agak lumayan dihadapin berempat 😊.
Ngomong-ngomong LDM, eh nggak jadi, nggak usah diomongin, untuk saya yang orangnya cuek parah pastilah tau sendiri gimana menghadapi LDM.. Sudahlah, kalau toh nanti ada kejadian LDM (karena kerjaan sekarang ini memungkinkan adanya mutasi, dsb) ya short term aja ya, dilanjutin 1 atap lagi kemanapun itu bagaimanapun caranya, apapun kondisi-kondisi terdampaknya, gimana? Sepakat?
“Bersamaku kau aman,
Bersamamu aku nyaman”
-Dayat Piliang-
Naik roller coaster selama 7 tahun, kadang naik kadang turun, kadang sedih namun sering bahagia, kadang marah namun sering baikannya, kadang jengkel namun lebih sering sayangnya. Banyak kenikmatan yang sudah kita dapat, banyak rencana-rencana Allah yang tiba-tiba saja menyuratkan kita sampai kondisi sekarang ini. Mengapa dulu harus A dulu jika bisa langsung B, tapi bisa jadi tanpa A maka B tidak akan tercapai, sudah ada garisnya..
Sayang,
Anak kita sudah SD ternyata, kalau dalam deret matematika, Usia pernikahan kita = N, Usia anak kita = M, maka M=N-1, jika N = 7 maka M= N-1 = 7-1 = 6 (Usia SD kelas 1). Semoga, si kembar sehat-sehat terus, jadi anak yang berkembang dengan baik secara intelegency, fisik, mental maupun spiritual. Sholehah ya nak...
Terus untuk calon adik dari si kembar yang masih dalam perjalanan menuju alam kandungan, semoga segera ada di waktu yang diridhoi Allah, mau berapa adik lagi? 2/3/4? Kembar lagi?
…
0274, 031 sudah kita lalui di selama kurang lebih 3 dekade. Now it’s the time for 021. Welcome to the real jungle kalo kata orang-orang. Happy 7th Anniversary, may Allah give the best for us, His plan is the best plan. Trust me.