Selasa, 03 April 2018

Silver Lining

Sok banget atuh judulnya, “keminggris”..
Ya sudahlah, mari dibaca dulu aja, barangkali nyambung.


Dari ratusan, ribuan kata, belum afdhol rasanya kalau sampai hari ini belum ada tulisan di blog yang bercerita, berkeluh kesah, bersuka ria, tentang ibunya anak-anak yang juga berkarir merangkap menjadi istri saya, perkenalkan Ferawati Dwiningrum.

Gadis Klaten, yang sudah lahir ke dunia ini dengan sehat wal ‘afiat (alhamdulillah) lebih dari seperempat abad yang lalu, dan pada akhirnya telah memutuskan untuk duduk disamping saya berpadu rindu, berjanji tuk setia selalu.

Sebenarnya tidak melulu tepat juga jika istri saya dibilang sebagai gadis klaten, mungkin lebih tepat dibilang numpang lahir saja :D. Mari kita kilas balik sebentar, jauh bertahun-tahun sebelumnya bapak mertua saya (baca: bapaknya istri saya) memilih untuk melakukan urbanisasi ke Kota Jogja demi kelayakan hidup yang lebih baik, pilihan yang cukup beresiko, tidak seperti saudara-saudaranya yang cenderung memilih untuk menetap atau justru melenggang ke Ibukota. Beliau berkecimpung di dunia administratif kesehatan negara, “melayani” rakyat Jogja, berniat tulus ikhlas untuk membantu sesama, berusaha sebaik mungkin agar masyarakat mendapatkan apa yang menjadi haknya, sungguh mulia kan? Mari ucapkan aamiin bersama-sama agar semua aparatur sipil negara bertindak seperti itu, jangan malah jadinya ngeribetin ya :)

Nah, simpulan cerita barusan adalah sebenarnya istri saya adalah wong jogja. Masa sekolah dihabiskan di kota istimewa ini, setelah tentu saja semenjak 2014 daku boyong dirinya ke Surabaya, sebagai wujud tanggung jawab seiya sekata ikrar terucap sepenuh jiwa. Dan… ya, ia percaya.

Melihat narasi tentang istri saya tadi, jadi semacam ada yang nyambung. Istilah kata, ada silver lining nya. Sebagaimana saya yang sebenarnya pada saat itu berdomisili di Bantul, tapi bapak minta saya untuk tetap sekolah di Kota Jogja. Ya, bisa jadi karena “polah” para bapak ini sehingga saya dan istri saya bertemu.

Ya, bertemu, baru sekedar bertemu. Lalu?



image by : https://orig00.deviantart.net/e918/f/2012/025/5/7/silver_lining_by_jordan_austin-d4nkp92.jpg

Senin, 13 Juli 2015

Sekolah lagi

Setahun lebih saya nggak nulis..

Coba hari ini mulai lagi untuk nulis, karena dengan ditulis maka nantinya bisa saya baca lagi, bisa flashback, bisa ketawa-ketawa, bisa belajar. Kalo nggak ditulis nanti bisa lupa, atau bahkan nggak inget apa yang harus diinget, karena biasanya apa yang ditulis itu cuman ingatan sekilas.

Kali ini mau cerita tentang ibuk, ibuk kandung saya yang masih setia di Kasongan masakin brongkos tiap saya mudik :9 , karena semenjak saya dipertemukan kembali setelah sekian lama dengan yang namanya brongkos waktu itu, di kantin tempat KP (baca : bengkel sepur balaiyasa), saya berikrar harus makan masakan ini lagi, yang lebih enak lengkap dan powerfull bareng dengan tholo, kulit mlinjo, tahu plempung, dsb. Yaitu buatan ibuk (next target : bojo saya juga kudu bisa bikin :D).

Kembali ke ibuk, jadi begini, ibuk saya sekolah lagi..

Juni 2015, sepertinya berkah ramadhan, ada tawaran menggiurkan dari RT sebelah, dicari ibu-ibu berprestasi (lebay) terkait adanya paket study tour (lebay lagi) selama 50 hari, lengkap dengan fasilitas-fasilitas fisik maupun nonfisik yang tak kalah menarik (lebay juga). Kabarnya ada sekitar 40an ibuk-ibuk datang dari segala penjuru RT yang berhasil join dan memenuhi kuota dari penyelenggara karena sudah lolos seleksi administrasi awal dan akhir (baca : copy ktp, KK dan pas foto). Karena hanya putri daerah lah yang boleh gabung, sungguh mulia persyaratannya.

Alhamdulillah ibuk saya baru saja pindah kependudukan (ganti KTP dari Kota ke Bantul) jadi ibuk saya bisa gabung juga, yeah. Cuma ada sedikit masalah, pas foto nya nggak ada, adanya klise (baca : negatif???), jadi kudu dicetak dulu, dipanggang pada dinding petromax (baca : afdruk??), istilah jaman lama sekali ya, sangat konotatif dan ambigu, pffft..jadi berasa tua. Singkat cerita semua syarat beres, wis ditumpuk, hari berikutnya wis kudu masuk. Masuk sekolah. Untung saja nggak perlu seragam semacam anak SD, karena pasti wagu.

Sehari dua hari berlalu..penat, sungguh penat kata ibuk. Pusing, sungguh pusing keluh ibuk. Masa iya, ibuk saya yang sudah juaaaarraanngg sekali main itung-itungan, trus kali ini selama 5 jam seharinya kudu bergelut dengan angka-angka? 3 : ¼, 6* ½ ,dst. Saya bahkan sampe lupa kapan terakhir kali ibuk pegang kalkulator. Masya Allah.

5 jam di sekolah itu cuma klise kata saya (tidak sama dengan makna klise di paragraf sebelumnya). Yang benar saja, ibuk-ibuk ini ternyata masih diberikan PR alias pekerjaan rumah. Apakah cikgu (baca : pengajar) di sekolah ndak tau apa ya, tanpa mereka kasih PR ibuk-ibuk ini sudah menciptakan PR mereka sendiri-sendiri, PR yang sudah ada semenjak titel ibu menempel pada diri mereka. Saya dan mas saya sok ngguya-ngguyu dewe di rumah, karena terkadang mendengarkan gumaman tanda kepenatan sang ibuk yang malem-malem masih ngadepin “PR” sekolahnya tadi siang. Luar biasa, Ganbatte Bu ne!!

Tapi syukurlah, Alhamdulillah, beberapa waktu lalu kan saya telpon ibuk, “Pripun buk sekolahe?” , “hehehe..seneng kok, okeh kancane (ngomong sambil terkekeh-kekeh).” Dari percakapan telepon tersebut, saya dapatkan kesimpulan baru dari fenomena "sekolah lagi" ini. Tak hanya penat kok yang ibuk dapatkan, namun ternyata ada poin “senang” juga, yang jelas ibuk saya mendapatkan komunitas tambahan, bukan hanya sebatas komunitas belanja di tukang sayur, komunitas arisan RT, komunitas pengajian di masjid, maupun komunitas momong putu, tapi kali ini juga ada komunitas EDUKATIF!!

Ibu rumah tangga episode beberapa dekade yang lalu belumlah sama dengan Ibu rumah tangga episode millenium akhir-akhir ini. Ibuk saya belum mengenal baik gadget sehingga tentu saja komunitas edukatif nya sangat terbatas, tak paham browsing, belum akrab dengan googling, bahkan socmed pun asing (bagus kan kayak gurindam :P), tak seperti jaman sekarang, maka bersyukurlah kalian wahai kalian ibu rumah tangga kekinian. Oleh karenanya study tour ini saya rasa cukup berarti bagi ibuk saya, banyak aspek yang terengkuh, tambah pintar dan tambah bahagia meski tetep penat pusing selalu ngikut di belakangnya. Mau pintar? Ya belajar.

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.58-11)

Belajar tidak mengenal usia, mari terus belajar kawan, jangan sampe kalah sama ibuk-ibuk study tour yang baru asyik bergelut dengan mesin jahit :D
 


Rabu, 25 Juni 2014

Makan Je-ko di Mek-di


*)



JOGJA hujan.. lebih tepatnya akan segera hujan. Seperti prediksi saya, siang yang teramat panas dilanjut mendung sore berwarna putih, nanti pasti hujan. “Tetep jadi mau pergi mas?”, Namira kurang yakin, padahal di satu sisi dia begitu berharap, entah kenapa ia pengen makan donat Jeko sore itu. Dan yang di otak saya cuma ada 2 pilihan. Amplaz atau Malioboro Mall, jauh atau agak jauh.

Malioboro, destinasi favorit para pelancong, para bule dan paling banyak menurut saya justru rombongan study tour, ciri-ciri mereka jelas, baju kembaran dan bergerombol, beberapa mukanya masih kusut, muka bangun tidur duduk lama di dalam bis. Tapi sebenernya malioboro bukanlah favorit orang asli jogja, iya macet, dan ya cuma itu-itu aja tidak banyak perubahan, hanya lampu kelap kelip dan sedikit taman hijau di tengah. Ah, sudahlah kami tetap kesana. Rumah kami barat selatan, jauh sekali jika harus ke jalan Solo, beberapa jengkal dari Janti.

“Mas Fahri, mau yang mana”, di depan para donat Namira coba mencairkan suasana. Yang benar saja, Namira yang tak kenapa-kenapa tiba-tiba tak disangka saya ajak untuk ketemuan, untuk apa? Untuk menyelesaikan masalah. Nah, apa coba. Wajar saja, berulang kali Namira flashback, “aku salah apa..”.

Beberapa hari sebelum, Sohib SMA ada yang mau nikah, sohib-sohib bijak gitu lah dulu, dan dia pun kembali mencoba bijak waktu itu, jika tak salah ingat dulu dia message saya via Whatsapp (WA), kurang lebih intinya begini ;

“..Bro, sebelum berlayar, luangkan waktu buat menyelesaikan kail-kail yang sempat tersangkut. Bersihkan setiap darinya, mungkin nanti jari tangan atau justru karang nya yang akan terluka, tapi tetap. Bersihkanlah.”

Saya langsung ingat Namira. Iya Namira, gadis yang sedang bersama saya saat ini. Iyaa kamuu..

Huft.. (ceritanya kesal) tempat duduk Jeko penuh, ada satu dua tempat tapi semacam nggak pewe (nggak kondusif buat ngobrol). Yang benar saja jika kami harus ber-tidak kondusif-ria padahal niat awal kami adalah khusyuk menyelesaikan masalah kan? Mari bergerak. Tak jauh, di pintu depan Mall ada patung badut, beli eskrim cone dan kentang goreng. Ayo Namira, kita makan Jeko di Mekdi :)
 
“Ra..”

“Iya Mas”

Namira sedikit gugup,

Saya tak kalah gugup. Gugup luar biasa. Berulang kali saya salah kata, salah diksi, salah nada, salah bicara. Saya, Fahri mati kutu di malam itu, mungkin ada semacam malaikat yang diutus untuk datang, diperintah untuk menjawab doa Namira. Iya, selama ini Namira berdoa, nanti saya kasih tau.
Saya tetap bisa bercerita, meskipun dengan terbata-bata, saya ucapkan semua apa yang saya maksud dengan “menyelesaikan masalah”. Tapi hambar, tidak ada poin dan tidak ada ketegasan. Seperti hanya latihan merangkai kata. Kenapa?

Karena Namira bukanlah sebuah “masalah”.

Sejenak lalu kami berjalan ke utara, mendatangi masjid, duduk bersimpuh dan berdoa, lagi-lagi jurus ampuh Namira selama ini saya rasa. Segera, kami pulang, dan Alhamdulillah selamat hingga saat ini, buktinya saya bisa mengetik kisah itu disini dan begitu pula Namira. Ini tulisan Namira ;

Tanpa proses edit sedikitpun, saya ketik ulang tulisannya, message nya di WA beberapa waktu lalu, persis jumlah titik dan koma nya (maaf sedikit hiperbolis),

“Malioboro mengeluarkan hawa malam minggu yang kental petang itu, ya saat itu memang malam minggu. Matahari sudah hampir tenggelam –atau bahkan sudah benar-benar tenggelam- entahlah saya tidak tau persis. Mungkin tertutup mendung yang beberapa hari menyelimuti kota Jogja. Petang itu awan terlalu kelabu, hujan deras pasti turun, dan benar saja hujan deras turun membasahi area malioboro.
……..
Ada satu hal yang kuyakini, ini bukanlah epilog bagi kisah kami, melainkan prolog untuk awal kehidupan yang bahagia antara aku dan dia yang seperti hilang ditelan hujan. Aku hanya ingin kisah ini berlangsung lama, tak peduli penuh luka atau air mata. Yang kuinginkan hanyalah satu, selalu bersamanya.”

Saya yakin, kalimat terakhir adalah doa Namira. Doa yang merubah epilog menjadi prolog. Hebat bukan?

 *) gambar diambil dari : http://anekatempatwisata.com/wp-content/uploads/2014/03/Jalan-Malioboro.jpg